Langsung ke konten utama
none

Mitos: Pandemi Virus Korona Menurun di Musim Panas

Organisasi Kesehatan Dunia mencatat bahwa virus COVID-19 dapat ditularkan di semua area, termasuk area dengan cuaca panas dan lembap.

Meskipun terasa melegakan untuk berpikir bahwa pandemi akan menurun secara alami
karena cuaca lebih hangat, harapan ini sebagian besar didasarkan pada perbandingan
dengan virus musiman. Kemungkinannya sangat kecil  bahwa virus corona, pada musim
pertamanya menjadi benar-benar bersifat musiman saja.

Kecepatan berbagai negara dalam mengatasi puncak dari kasus -kasus yang terjadi akan
ditentukan oleh seberapa baik dan seberapa cepat warga dapat menerapkan saran
untuk social distancing (jarak sosial) dan tinggal di rumah dalam rangka memutus
penularan.  Langkah-langkah ini kecenderungannya lebih menentukan kapan pandemi akan
menurun dibandingkan dengan cuaca.

Harapan palsu ini pertama kali digaungkan di media sosial setelah konferensi pers tanggal
10 Februari, di Gedung Putih, di mana dikatakan bahwa virus corona mungkin akan mati
begitu saja ketika cuaca menjadi semakin hangat.

Ada beberapa studi awal dalam jurnal versi pracetak yang ditinjau oleh bukan rekan sejawat
yang dengan cepat berupaya mengumpulkan data atau membuat model penularan virus ini
di berbagai daerah dan populasi. Meskipun menjanjikan, tidak ada yang memberikan bukti
yang meyakinkan untuk membalikkan gagasan bahwa perilaku warga yang didukung oleh
tindakan pemerintah mereka yang akan membendung gelombang epidemi ini di akhir
tahun.

Dari mana asal cerita tersebut?

Berbagai akun sumber media sosial, dan para komentator telah memperkuat cerita  ini baik
secara positif maupun negatif.

Apa dasar dari pernyataan itu?

Pemikiran bahwa cuaca yang lebih hangat dapat menghambat penyebaran penyakit ini
sebagian besar berasal dari perbandingan yang dilakukan terhadap penyakit flu. Sebagai
penyakit pernapasan, COVID-19 mirip dengan penyakit flu. Kedua virus penyakit  ini
menyebar melalui sekresi pernapasan dan permukaan yang terkontaminasi. Kedua penyakit
ini dapat menyebabkan penyakit pernapasan ringan, yang pada beberapa kasus
berkembang menjadi pneumonia yang mengancam jiwa. Tetapi rantai penularannya bisa
berbeda untuk virus yang baru dan kami belum tahu banyak tentang virus SARS-CoV-2.

Tinjauan dari Institut Teknologi Massachusetts yang dipublikasikan pada tanggal 19 Maret
menggunakan data yang dikumpulkan oleh Universitas John Hopkins untuk menyelidiki
tingkat penularan virus corona di wilayah-wilayah di dunia yang suhunya berkisar antara 3
dan 13°C.  Pada tanggal tersebut 5% kasus diamati di negara-negara yang suhunya di atas
18°C.

Para penulis ini menekankan bahwa langkah-langkah untuk menjaga jarak sosial, karantina
dan isolasi akan diperlukan untuk secara efektif mengurangi penularan SARS-CoV-2 (virus)
dan melindungi orang-orang yang berisiko terkena COVID-19 (penyakit) yang lebih serius.

Studi dan pembuatan model ekologi penyebaran SARS-CoV-2 di berbagai data iklim baru-
baru ini telah dipublikasikan.  Sejauh ini banyak yang belum melalui proses peninjauan dari
rekan sejawat tentang kaitannya terhadap cuaca atau suhu, sehingga bukti yang ada lemah.
Studi pertama membuat model perubahan iklim bulanan dan kemungkinan penularan virus
sepanjang tahun. Para penulis menemukan bahwa virus corona menunjukkan lebih
menyukai kondisi dingin dan kering daripada yang panas dan lembab.

Para penulis dari studi lainnya  yang dilakukan di Cina menghitung angka reproduksi harian
(R0), yang merupakan suatu ukuran berapa banyak orang yang terinfeksi oleh setiap kasus
primer di berbagai kota di Cina. Dalam kutipan dengan lebih dari 40 kasus, hubungan antara
suhu tinggi dan kelembapan dengan penularan yang lebih rendah (R0) ditemukan setelah
mengendalikan kepadatan populasi.

Penelitian awal seperti ini perlu diulangi di lebih banyak negara sebelum siapapun  dapat
memiliki keyakinan akan adanya hubungan antara penularan dan iklim.

Apa yang dikatakan sumber tepercaya?

Organisasi Kesehatan Dunia mencatat bahwa virus COVID-19 dapat ditularkan di semua
area, termasuk area dengan cuaca panas dan lembap. Pusat Pengendalian dan Pencegahan
Penyakit menyebutkan bahwa saat ini tidak diketahui apakah suhu dan cuaca panas akan
memiliki dampak terhadap penyebaran COVID-19.

Info dari Dettol