Breadcrumbs

Mitos: Bisakah Anda terkena coronavirus dua kali?

Ketika lebih banyak orang mulai terkena COVID-19, pertanyaan penting dalam merencanakan tanggapan atas virus corona adalah: dapatkah mereka terkena dua kali?

Beberapa laporan mengatakan bahwa beberapa orang yang telah pulih dari COVID-19 bisa mendapatkan hasil tes positif untuk virus itu lagi tidak lama setelah sakit. Penelitian secara terbatas sejauh ini menunjukkan bahwa hal tersebut terjadi karena adanya fluktuasi pada tingkat virus pada seseorang dan bukan dikarenakan infeksi yang berulang. Penelitian ini hanya mengamati 4 orang saja, sehingga masalah ini belum terselesaikan. 

Karena cara bekerjanya sistem kekebalan tubuh kita, tampaknya tidak mungkin seseorang yang telah berhasil memerangi virus corona baru ini akan terinfeksi lagi dalam waktu singkat. Penelitian awal pada monyet mendukung hal ini.

Beberapa virus seperti flu dapat berubah secara cukup memadai untuk menghindari sistem kekebalan tubuh dan dapat menginfeksi orang lagi pad asaat tingkat antibodi melemah, walaupun hal tersebut membutuhkan waktu. Masih terlalu dini untuk mengetahui bagaimana bekerjanya kekebalan terhadap virus corona baru atau bagaimana virus dapat berubah dalam jangka panjang.

 

Dari mana cerita itu berasal

Pada bulan Februari, seorang wanita Jepang yang telah pulih dari COVID-19 dan dites negatif terhadap virus, mengalami gejala dan dites positif lagi sekitar 20 hari kemudian. Negara Cina juga dilaporkan memiliki kasus serupa. Kasus-kasus ini menyebabkan orang mempertanyakan apakah mungkin untuk terkena virus corona dua kali.

 

Apa dasar dari pernyataan itu?

Sangat sulit untuk mengetahui dengan alasan yang pasti di balik kasus-kasus di atas. Walaupun infeksi berulang adalah salah satu kemungkinan,  ada kemungkinan lain bahwa infeksi yang dimiliki orang tidak pernah hilang tetapi tidak terdeteksi untuk sementara waktu. Hal ini mungkin terjadi karena tingkat virus yang rendah.

Sebuah studi Cina melaporkan mengenai tindak lanjut yang dilakukan terhadap 4 tenaga profesional medis setelah mereka pulih dari COVID-19 dan mendapat hasil tes negatif untuk virus. Mereka semuanya  telah diobati dengan obat anti virus yang digunakan untuk mengobati flu (oseltamivir).

Diketahui bahwa keempat orang tersebut telah melakukan tes usap tenggorokan, dengan hasil positif lagi untuk virus corona, 5 sampai 13 hari setelah meninggalkan rumah sakit. Tidak ada dari mereka yang memiliki gejala atau mengalami kelainan pada paru-paru mereka pada saat itu.

Secara relatif ini adalah sejumlah kecil dari kasus ringan hingga sedang, dan tidak mungkin untuk mengatakan secara pasti bahwa hal yang sama akan terlihat pada semua kasus. Para peneliti melakukan pengujian secara seksama untuk virus, serta melakukan beberapa pengujian untuk memeriksa hasilnya. Mereka mengatakan bahwa temuan tersebut terkait orang yang masih menjadi pembawa virus, karena mereka belum pernah kontak dengan orang lain dengan gejala pernapasan yang bisa menginfeksi ulang mereka.

Sementara studi mengatakan bahwa orang tersebut mungkin masih memiliki virus corona di tenggorokan mereka, kami tidak tahu apakah jumlahnya cukup untuk dapat menularkan. Tak satu pun dari orang yang tinggal bersama mereka pada saat itu terjangkit virus corona dari orang tersebut.

Penelitian tahap awal pada 2 monyet rhesus yang terinfeksi dengan virus corona baru menemukan bahwa mereka tidak tertular lagi ketika terpapar kembali sebulan kemudian. Studi kecil ini belum ditinjau kembali oleh peneliti lain sehingga tidak konklusif.

 

Apa yang dikatakan sumber tepercaya?

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengatakan bahwa respons kekebalan terhadap virus corona baru belum dipahami. Mereka mengatakan bahwa orang yang terkena virus corona yang menyebabkan MERS tidak mungkin terinfeksi ulang segera setelah pemulihan, tetapi belum diketahui apakah perlindungan kekebalan yang sama akan terlihat untuk pasien COVID-19.

Minggu ini kepala penasihat ilmiah pemerintah Inggris Sir Patrick Vallance mengatakan bahwa walaupun ada beberapa orang terkena penyakit menular ini untuk kedua kalinya, hal itu jarang terjadi. Dia mengatakan tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa ini akan terjadi dengan virus corona.

Analisis dilakukan oleh EIU Healthcare, dengan didukung oleh Reckitt Benckiser

 

Kutipan

Reuters. Coronavirus: Japanese woman tests positive for second time. The Guardian, 27 February 2020. https://www.theguardian.com/world/2020/feb/27/japanese-woman-tests-positive-for-coronavirus-for-second-time (Accessed 17 March 2020)

Zhou L et al. [Cause analysis and treatment strategies of "recurrence" with novel coronavirus pneumonia (covid-19) patients after discharge from hospital]. Zhonghua Jie He He Hu Xi Za Zhi. 2020 Mar 2;43(0):E028. [Epub ahead of print] https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/32118391 (Accessed 17 March 2020)

 

Daftar bacaan

Lan L et al. Positive RT-PCR Test Results in Patients Recovered From COVID-19. JAMA. Published online February 27, 2020. https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2762452 (Accessed 17 March 2020) 

Bao L et al. Reinfection could not occur in SARS-CoV-2 infected rhesus macaques. bioRxiv, 14 March 2020. https://www.biorxiv.org/content/10.1101/2020.03.13.990226v1.article-info (Accessed 18 March 2020)

US CDC. Coronavirus Disease 2019. Healthcare Professionals: Frequently Asked Questions and Answers. Updated 17 March 2020. https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/faq.html (Accessed 17 March 2020)