Breadcrumbs

Waspada Infeksi Sepsis yang Bisa Merenggut Nyawa

Infeksi sepsis (septikemia) atau yang juga dikenal sebagai “keracunan darah” bisa dialami siapa saja tanpa pandang bulu. Sepsis adalah kondisi gawat darurat yang harus segera mendapatkan perawatan medis. Jika tidak, akibatnya bisa fatal. Simak ulasan lengkap mengenai sepsis berikut ini.

Sepsis adalah keracunan darah yang berbahaya

Sepsis adalah respon mematikan dari sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi atau cedera. Sepsis dimulai ketika kuman penyebab infeksi telanjur masuk ke dalam aliran darah. Racun dari bakteri tersebut kemudian menyerang fungsi  berbagaiorgan vital, seperti mengubah suhu tubuh, denyut jantung, serta tekanan darah.

Hal ini kemudian justru menyebabkan peradangan yang meluas dan tak terkendali. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh Anda malah bereaksi secara berlebihan sehingga balik menyerang organ serta jaringan tubuh yang sehat.

Padahal yang seharusnya terjadi adalah sistem imun memproduksi zat kimia histamin untuk membantu memerangi infeksi tersebut.

Siapa yang paling berisiko terkena sepsis?

Sepsis dapat menyerang siapa saja. Namun memang lebih cenderung menyerang kelompok orang yang memiliki daya tahan tubuh lemah, terutama bayi prematur dan bayi baru lahir.

Infeksi apa pun sama-sama berisiko untuk menyebabkan sepsis jika tidak tertangani dengan baik. Namun, sebagian besar kasus sepsis lebih sering disebabkan oleh infeksi bakteri pada perut, infeksi ginjal, infeksi kulit, infeksi darah, serta infeksi paru pneumonia

Apa tanda dan gejala sepsis?

Orang yang mengalami sepsis biasanya akan menunjukkan tanda dan gejala berupa:

  • Sedang mengalami infeksi,
  • Demam di atas 38 derajat Celcius atau suhu tubuh di bawah 36 derajat Celcius
  • Denyut jantung di atas 90 detakan per menit
  • Laju pernapasan lebih dari 20 napas per menit

Gejala-gejala ini bisa menjadi tanda bahwa sepsis telah masuk dalam kategori berat. Anda mungkin mulai mengalami bercak pada kulit, jarang buang air kecil, kesulitan bernapas, sering merasa lelah, dan lain sebagainya.

Jangan tunda untuk segera periksaka diri ke dokter bila Anda mengalami kondisi yang mirip seperti di atas. Semakin cepat Anda mendapat pengobatan yang tepat, semakin besar pula peluang Anda untuk bertahan hidup.

Bagaimana penanganan yang tepat untuk sepsis?

Langkah paling pertama yang akan dilakukan dokter untuk mendeteksi sepsis adalah dengan mengamati tanda dan gejala yang muncul lewat pemeriksaan fisik dasar. Dokter juga akan mempertimbangkan riwayat kesehatan Anda, terutama bila sudah pernah mengalami kondisi tertentu yang berisiko sepsis. Misalnya pernah menjalani bedah medis (risiko dari infeksi luka operasi), pernah mengalami penyakit infeksi (misalnya pneumonia), atau gangguan yang melemahkan daya tahan tubuh  (diabetes atau HIV, misalnya).

Setelahnya dokter mungkin akan meminta Anda melakukan tes darah dan tes urin guna memeriksa adanya infeksi dalam tubuh. Tes sekresi luka untuk mengetahui infeksi dari luka terbuka serta tes sekresi lendir guna menemukan kuman atau bakteri penyebab infeksi, juga bisa disarankan dokter untuk memperkuat hasil diagnosis.

Bagaimana cara perawatan sepsis?

Sepsis diobati dengan pemberian obat antibiotik untuk mengatasi infeksi bakteri yang jadi penyebabnya. Meski begitu, antibiotik untuk sepsis akan tetap disesuaikan dengan jenis infeksi dan bakteri penyebabnya. Itulah mengapa penting untuk menjalani serangkaian pemeriksaan khusus sepsis agar bisa didagnosis dengan tepat.

Selain dengan antibiotik,  dokter juga dapat merencanakan terapi pengobatan sepsis dengan cairan intravena (infus), vasopressor (membuat pembuluh darah menyempit), ventilator (bila oksigen dalam tubuh menurun), hingga operasi. untuk menghambat perkembangan penyakit sekaligus mempercepat penyembuhan

 

Bisakah sepsis dicegah?

Lagi-lagi, sepsis bukanlah kondisi sepele yang bisa luput dari perhatian. Pasalnya, ada lebih dari 30 juta orang yang mengalami sepsis setiap tahunnya, dilansir dari WHO. Bahkan, satu dari tiga pasien penderita sepsis di rumah sakit dinyatakan meninggal dunia.

Maka itu, sebaiknya lakukan pencegahan sedini mungkin untuk menghindari risiko sepsis yang bisa berakibat fatal. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) telah merangkum tiga pencegahan utama sepsis, meliputi:

1. Rajin cuci tangan dengan sabun dan air bersih

Langkah paling dini dan sederhana untuk mencegah sepsis adalah rajin cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, setiap kali sebelum atau sesudah melakukan sesuatu. Meski terkesan sepele, tapi kebiasaan ini bisa membantu mencegah masuknya infeksi ke dalam tubuh.

Usahakan untuk menggunakan sabun antiseptik yang dinilai ampuh mengurangi risiko infeksi yang diakibatkan oleh kuman seperti virus, bakteri, jamur, maupun parasit berbahaya lainnya.

Tidak hanya itu, Anda juga dianjurkan rutin mandi dua kali sehari untuk membersihkan badan.

2. Kenali gejala sepsis

Memahami gejala yang menandakan adanya sepsis bisa bantu Anda dan orang terdekat untuk segera mendapatkan perawatan medis yang tepat sebelum kondisi bertambah parah.

3. Patuhi aturan pencegahan infeksi

Menjaga kesehatan tubuh bisa dimulai dengan senantiasa menaati semua nasehat yang disarankan oleh dokter untuk menjaga kesehatan. Ini termasuk memahami cara merawat luka yang tepat sebelum menjadi infeksi, mengikuti jadwal vaksin yang telah ditetapkan, dan segera konsultasi bila muncul tanda-tanda infeksi.

 

 Sumber:

Sepsis. www.healthline.com/health/sepsis. Diakses pada 30 Agustus 2018.
Sepsis: What You Need to Know. www.medicalnewstoday.com/articles/305782.php. Diakses pada 30 Agustus 2018.
What is Sepsis? www.webmd.com/a-to-z-guides/sepsis-septicemia-blood-infection#1. Diakses pada 30 Agustus 2018.
Data and Reports. www.cdc.gov/sepsis/datareports/index.html Diakses pada 30 Agustus 2018.
How Can I Prevent Sepsis? www.cdc.gov/sepsis/prevention/index.html Diakses pada 30 Agustus 2018.